Minggu, 01 Desember 2013

MENYIKAPI PEKAN KONDOM NASIONAL KE – 7 TH 2013

MENYIKAPI PEKAN KONDOM NASIONAL KE – 7 TH 2013

EPIDEMIOLOGI HIV –AIDS DI INDONESIA


Peningkatan kasus HIV/AIDS memang cukup memprihatinkan. Ditjen PP dan PL kemenkes RI melaporkan sampai bulan juni 2013 terjadi pertambahan 5369 kasus HIV dan 460 kasus AIDS. Secara kumulatif HIV & AIDS sejak 1 April 1987 s.d. 30 Juni 2013 terdapat 108600 kasus HIV, 43667 kasus AIDS dengan 8340 kematian. Peningkatan cukup drastis tampak dari tahun 2005 menuji 2011.



Priyono Satyabakti menuliskan tentang Epidemiologi of HIV AIDS (ikma10fkmua.files.wordpress.com/.../epidemiologi-of-hiv-aids-copy.pp )

Di Indonesia 2012Cukup memprihatinkan bahwa kasus AIDS 45.4 % mengenai kelompok usia 20-29 tahun. Kelompok  usia produktif dari generasi muda bangsa ini.



Distribusi AIDS berdasarkan gender, sekitar 70 % mengenai laki-laki dan sisanya pada perempuan. Bila diperhatikan distribusi penderita AIDS sejak 1987 - 2013  berdasarkan pekerjaan maka ibu rumah tangga menempati peringkat kedua setelah pebisnis. Tetapi untuk tahun 2011 saja, maka peringkat pertama penderita AIDS ada pada ibu rumah tangga.




Gambar 3. Jumlah kumulatif kasus AIDS berdasarkan pekerjaan 1987 – 2011 2



Gambar 4. Jumlah kumulatif kasus AIDS berdasarkan pekerjaan tahun 20112

Berdasarkan provinsi, penyebaran kasus AIDS terbanyak tahun 2011 ada di DKI Jakarta Jawa timur dan ketiga di Papua.



Data-data epidemilogi diatas tentunya harus menjadi perhatian kita, karena HIV-AIDS bukan semata masalah STD tetapi menjadi masalah kesehatan, ekonomi, politik, social dan dunia akhirat.




SEJARAH PEKAN KONDOM NASIONAL (PKN)


Pada tahun 1994 pemerintah a. presiden mengeluarkan Kepres No 36 th 1994 : tentang Pembentukan KPA (Komisi Penanggulangan AIDS). Kepres ini kemudian diperbaharui dengan Peraturan Presiden RI no 75 tahun 2006 tentang KPA Nasional http://www.presidenri.go.id/ DokumenUU.php/243.pdf. Pada peraturan prsiden no 75 ini terdapat susunan panitia KPA nasional (ada di pasal 4) dengan sekretarisnya adalah Dr. Nafsiah Ben Mboi (menkes saat ini).

Berdasarkan pasal 5 : Penyelenggaraan tugas Komisi Penanggulangan AIDS Nasional sehari-hari dibantu dan dilaksanakan oleh Tim Pelaksana. Tim pelaksana diketuai oleh Sekretaris KPA Nasional (Dr. Nafsiah Ben Mboi).

Dari sinilah kemudian kita bisa melihat mata rantai mengapa dr. Nafsiah Ben Mboi saat dilantik menjadi menkes langsung akan mengadakan pembagian kondom gratis.


KEMENKES th 2009 mengeluarkan  Modul Pelatihan Intervensi Perubahan Perilaku A1 Kebijakan dalam penanggulangan IMS, HIV dan AIDS (http://pppl.depkes.go.id/_asset/_download /Modul_A-1_Kebijakan_Penanggulangan_IMS,_HIV_&_AIDS_-_MINI.pdf . Modul ini diuji cobakan  pada 600 petugas lapangan yang bekerja pada 60-an LSM yang tersebar di 8 provinsi DKI, Jabar, Jatim, Jateng, Kepri, Sumut, Papua dan Papua Barat. Pelatihan diberikan bagi petugas lapangan yang mendampingi berbagai kelompok berperilaku risiko tinggi seperti: Wanita Penjaja Seks (WPS), Laki-laki yang berhubungan Seks dengan Laki-laki lain (LSL), Waria, serta Pria berperilaku risiko tinggi.


Kegiatan Program Pengendalian HIV dan AIDS Sektor Kesehatan dengan Kegiatan Teknis Programnya adalah

1. Intervensi Perubahan Perilaku.

2. Konseling dan Tes HIV.

3. Perawatan, Dukungan dan Pengobatan.

4. Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak.

5. Pengendalian IMS.

6. Pengurangan Dampak Buruk NAPZA Suntik.

7. Kolaborasi TB-HIV.

8. Kewaspadaan Universal.

9. Pengamanan Darah.


Diantara kebijakan umum yang mendukung Pelaksanaan Program Intervensi Perubahan Perilaku dalam Pencegahan IMS dan HIV Melalui Hubungan Seksual adalah:



  1. Upaya pengendalian HIV dan AIDS diutamakan pada kelompok masyarakat berperilaku risiko tinggi tetapi harus memperhatikan kelompok masyarakat yang rawan, termasuk yang berkaitan dengan pekerjaannya dan kelompok marjinal terhadap penularan HIV dan AIDS.

  2. Upaya pencegahan yang efektif termasuk pengendalian IMS pada sub populasi berisiko tertentu dan promosi alat/jarum suntik steril serta terapi rumatan metadon bertujuan untuk memutus rantai penularan HIV.

  3. Pelaksanaan kegiatan program pengendalian IMS, HIV dan AIDS menggunakan standar, pedoman dan petunjuk teknis yang diberlakukan Departemen Kesehatan.

  4. Layanan kesehatan terkait IMS, HIV dan AIDS tanpa diskriminasi dan menerapkan prinsip keberpihakan kepada pasien dan masyarakat (patient and community centered).

  5. Upaya pengendalian HIV dan AIDS harus menghormati harkat dan martabat manusia serta memperhatikan keadilan dan kesetaraan jender.

  6. Upaya pencegahan HIV dan AIDS pada anak sekolah, remaja dan masyarakat umum diselenggarakan melalui kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi guna mendorong kehidupan yang lebih sehat.

  7. Upaya pencegahan yang efektif termasuk penggunaan kondom 100% pada setiap hubungan seks berisiko, semata-mata hanya untuk memutus rantai penularan HIV.

  8. Upaya pengendalian HIV dan AIDS diselenggarakan oleh masyarakat, pemerintah, dan LSM berdasarkan prinsip kemitraan. Masyarakat dan LSM menjadi pelaku utama sedangkan pemerintah berkewajiban mengarahkan, membimbing dan menciptakan suasana yang mendukung terselenggaranya upaya pengendalian HIV dan AIDS.

  9. Upaya pengendalian HIV dan AIDS diutamakan pada kelompok masyarakat berperilaku risiko tinggi tetapi harus pula memperhatikan kelompok masyarakat yang rentan, termasuk yang berkaitan dengan pekerjaannya dan kelompok marjinal terhadap penularan HIV and AIDS.


Menjadi sebuah tanda tanya besar, mengapa upaya pencegahan dan penurunan angka kejadian HIV/AIDS hanya terfokus pada penyebaran kondom saja padahal modul yang berisi kebijakan pencegahan AIDS dengan intervensi perilaku hanya menyebutkan pemakaaian kondom 100% untuk mereka yang berisiko? Menkes sudah keluar dari garis kebijakan pencegahan HIV AIDS di Indonesia.


Pekan Kondom Nasional (PKN) 2013 bukanlah yang pertama kali diadakan, ini bahkan yang ke-7 kalinya.



PKN 2007 


http://myquran.org/forum/index.php?topic=30274.0)


"Salah satu tujuan dari kampanye ini adalah agar kondom tidak dimusuhi. Kondom hanyalah alat, justru perbuatan yang beresiko yang boleh dimusuhi," kata Dr Nafsiah Mboi, Sekretaris KPA Nasional. Senada dengan Nafsiah, Ketua Umum Dewan Mesjid Indonesia, Dr.H.Tarmizi Taher mengatakan bahwa kampanye penggunaan kondom bertujuan agar setiap orang melindungi diri dari penyakit. "Kampanye ini bukan untuk mengajak orang melacurkan diri, tapi untuk melindungi diri," ujarnya.
Dalam PKN 2007 ini selain melakukan sosialisasi ke seluruh masyarakat, pihak panitia juga telah menyiapkan berbagai kegiatan, antara lain pencarian 100 relawan pencoba kondom, pembagian kondom gratis, apresiasi terhadap tokokh yang berkomitmen tinggi pada masalah HIV/AIDS, konser musik, dan masih banyak lagi.


Target kampanye ini memang tidak hanya terbatas pada kelompok yang beresiko, tetapi juga pasangan usia subur dan masyarakat luas. Menurut Nafsiah sosialisasi kondom hanya pada kelompok beresiko justru menimbulkan stigma sehingga orang malas memakai kondom. "Seks yang beresiko tidak sama dengan perzinahan, seks yang beresiko juga terjadi dalam pernikahan yang suci. Misalnya suami yang membawa bibit penyakit lalu menularkan lewat hubungan seksual dengan istrinya," paparnya.



PKN 2008
http://www.arrahmah.com/read/2008/12/07/2715-mer_c_tolak_pekan_kondom _nasional.html


Program PKN diawali dengan konferensi kondom pada 1 Desember di hotel Marrriot, Jakarta, dibuka oleh Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Aburizal Bakrie.


MER-C mengingatkan bahwa kondom tidak akan berpengaruh terhadap penyebaran HIV karena proses penularan virus HIV terbesar di Indonesia adalah melalui jarum suntik pengguna narkotika dan zat adiktif (49.1%), lalu hubungan seksual 46.2% (heteroseksual 42,1% dan homoseksual 4,1%).

Dengan kata lain, narkotika dan perilaku seks bebas adalah penyebab utama menyebarnya HIV/AIDS di Indonesia.


Metode kampanye menggunakan kondom sebagai “pengangkal” penularan HIV dinilai MER-C tidak tepat karena ukuran pori-pori kondom lebih besar daripada ukuran virus HIV.

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa ukuran pori-pori kondom lebih besar daripada ukuran virus HIV, tapi ternyata tidak diperhatikan atau sengaja diabaikan oleh para aktivis penanggulangan HIV/AIDS, demikian pernyataan MER-C.


PKN 2009


http://www.satudunia.net/content/pekan-kondom-nasional-2009-sasar-mahasiswa


Julia Perez dinonobatkan sebagai Duta Kondom Nasional.

PKN 2009  akan diselenggarakan pada 1 – 7 Desember, diisi beragam kegiata. Antara lain Campus Challenge dan konser MTV Staying Alive. Kegiatan tersebut bertujuan memberikan informasi yang akurat dan mengkampanyekan pencegahan HIV/AIDS untuk kawula muda, serta distribusi materi edukasi mengenai pencegahan HIV dengan menggunakan kondom di berbagai tempat.


Kegiatan ditujukan kepada generasi muda khususnya mahasiswa karena kelompok terbesar yang hidup dengan HIV/ AIDS di Indonesia saat ini berusia 15-29 tahun. Berdasarkan data per Maret 2009, orang yang hidup dengan AIDS secara kumulatif pada usia 15-29 tahun mencapai 9.089 atau berkontribusi sekitar 54 persen dari 16.964 total kasus AIDS yang tercatat.


PKN 2010


Agenda utamanya : “Paparan mengenai kondom sebagai salah satu cara mudah dan efektif untuk menekan laju peningkatan penyakit menular seksual khususnya HIV/AIDS di Indonesia”



  • Hari & Tanggal : Jumat, 26 November 2010

  • Waktu : 09.30 – 12.00 WIB

  • Tempat : Decanter Wine House – Plaza Kuningan

  • Menara Utara Ground Floor, Jl H. R. Rasuna Said - Jakarta

  • Dengan pembicara :

    • Todd Callahan , Country Director DKT Indonesia

    • Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional

    • Dr. Sugiri Syarief , Kepala BKKBN Pusat

    • Mrs. Nancy Fee, UNAIDS Indonesia Country Coordinator

    • Ibu Evodia Iswandi, Country Manager, IBCA





PKN 2011


http://archive.kaskus.co.id/thread/11745596/0)


Sebanyak 30 ribu kondom akan dibagikan dalam Pekan Kondom Nasional sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari AIDS sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Nafsiah Mboi mengatakan pembagian kondom gratis itu tidak berarti bahwa mendukung perilaku seks bebas namun untuk pencegahan penularan HIV dan penyakit menular seksual lainnya.


"Kita akan bagikan kepada pemula yang belum tahu. Ini bukan berarti mendukung ’free sex’ (seks bebas), seks bebas itu sudah ada. Kondom adalah sebagai alat pencegahan," ujarnya.

Untuk tahun 2011, Peringatan Hari AIDS Sedunia di Indonesia mengangkat tema "Lindungi Pekerja dan Dunia Usaha dari HIV dan AIDS", yang disebabkan karena kalangan usia produktif merupakan mereka yang paling rentan tertular HIV.


"Penyebaran HIV/AID melalui 3 cara, yaitu hubungan seks tanpa pengaman, alat suntik narkoba dan kehamilan. Bila beberapa tahun lalu, jarum suntik menjadi penyebab utama HIV/AIDS, tahun ini hubungan seks tanpa kondom menjadi penyebab utamanya," ungkap Dr. Nafsiah Mboi, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, saat dijumpai dalam Konferensi Media Pekan Kondom Nasional di Epicentrum Walk, Kuningan.

Kampanye anti-AIDS ini merupakan kegiatan yang didukung Komisi Penanggulangan AIDS Nasional bekerja sama DKT Indonesia dan perusahaan brand kondom Sutra dan Fiesta, yang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dunia pekerja terhadap perkembangan HIV/AIDS di tanah air yang terus mengalami peningkatan.



PKN 2012


https://popular-world.com/control/Article?articleId=11630


Pada haru Rabu (5/12) lalu, bertempat di Ruang Cempaka, Balai Kartini, Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Menggelar Konferensi Pers “Pekan Kondom Nasional 2012” dan selanjutnya di gelar selama satu minggu penuh.
Melalui PKN 2012 ini, DKT sekaligus ingin merayakan sebuah prestasi membanggakan dimana telah  berhasil mencapai angka pemasaran sosial sebanyak 1 milyar kondom di Indonesia sejak pertama kali dipasarkan di tahun 1996 hingga Oktober 2012.


 PKN 2013 http://health.kompas.com/read/2013/11/15/0546520/Dinilai.Efektif.Pekan.Kondom.2013.Digelar.Lebih.Besar


Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) kembali menggelar Pekan Kondom Nasional (PKN). Rencananya, PKN 2013 akan digelar lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya untuk meningkatkan cakupan sasaran.

Untuk tahun ini, PKN mengusung tema "Protect Youself, Protect Your Partner" yang sebenarnya merupakan wujud kepedulian terhadap HIV dan AIDS. Seperti diketahui, 80 persen penularan HIV berasal dari hubungan seks tidak aman sehingga meningkatkan kesadaran penggunaan kondom akan melindungi diri sendiri dan pasangan.

Kemal (pengganti dr.Nafsiah Ben Mboi) mengatakan, dibutuhkan promosi gencar untuk mendorong adanya kesadaran perubahan perilaku, tetapi hal itu umumnya membutuhkan waktu yang lama. Karena itu, promosi penggunaan kondom merupakan cara yang paling efektif, terutama bagi populasi kunci yang memiliki risiko paling tinggi.

Dari enam kali PKN, terlihat bahwa gencarnya pesan sponsor dari perusahan kondom yang selalu mensponsori kegiatan ini setiap tahunnya. Tidak pernah ada evaluasi dari kegiatan ini, bahkan pemerintah cq KPA Nasional  menganggap perlu diadakan PKN yang lebih besar lagi. Pembagian kondom secara gratis yang dikecam oleh beberapa ormas di tahun-tahun sebelumnya tidak menyurutkan langkah KPA nasional. MUI yang seharusnya menjadi pengontrol umaro pun tidak mengeluarkan bantahan maupun penolakannya.

Bagaimana CDC melakukan pencegahan HIV-AIDS ?

CDC menyebutkan bahwa tindakan yang paling tepat dilakukan untuk mencegah STD dan HIV AIDS adalah “to abstain from sexual activity or to be in a long-term mutually monogamous relationship with an uninfected partner.” Pemakaian kondon secara konsisten dan benar dapat menurunkan (tetapi tidak mengeliminasi) risiko transmisi STD dan HIV AIDS.  Ini sangat sejalan dengan preventif yang diberikan al quran “ Laa taqrobuzzinaa” http://www.cdc.gov/CONDOMEFFECTIVENESS/docs/Condoms_and_STDS.pdf

Pendekatan yang dilakukan oleh CDC untuk mencegah STD dan HIV AIDS adalah :



  1. Pemeriksaan HIV dan konseling

  2. Mencegah transmisi ibu – janin

  3. Sirkumsisi untuk laki-laki

  4. Mencegah transmisi melalui tindakan medic dan tranfusi

  5. Mencegah penularan melalui hubungan seksual pada populasi tertentu seperti pemuda, penderita HIV dan keluarganya,  pasangan dengan serodiskordant  dan populasi berisiko tinggi.

CDC juga menjalankan lintas program untuk mendukung pencegahan HIV, diantaranya isu pembedaan gender, menekan pengguna alcohol yang berhubungan dengan perilaku berisiko, mendukung pendekatan pencegahan HIV berbasis masyarakat dengan menggunakan strategi kombinasi.


Effektifkah kondom mencegah HIV/AIDS ?

Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari. Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini sejak bertahun-tahun lalu tidak bosan-bosannya menyerukan kepada masyarakat dan juga pemerintah tentang fakta ilmiah rendanya efektifitas kondom sebagi pelindung dan penangkal penyebaran virus HIV/AIDS.

Beberapa temuan ilmiah seputar rendahnya efektivitas kondom bagi upaya penyebaran virus HIV/AIDS, dipaparkan seperti dibawah ini:



  • Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima (1993) menyatakan bahwa efektivitas kondom diragukan.

  • Pernyataan J. Mann (1995) dari Harvard AIDS Institute yang menyatakan bahwa tingkat keamanan kondom hanya tujuh puluh persen.

  • Penelitian yang dilakukan oleh Carey (1992) dari Division of Physical Science, Rockville, Maryland, USA, menemukan kenyataan bahwa virus HIV dapat menembus kondom. Dari 89 kondom yang diperiksa (yang beredar dipasaran) ternyata 29 darinya terdapat kebocoran, atau dengan kata lain tingkat kebocoran kondom mencapai tiga puluh persen.

  • Dalam konferensi AIDS Asia Pasific di Chiang Mai, Thailand (1995), dilaporkan bahwa penggunaan kondom aman tidaklah benar.

  • Disebutkan bahwa pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaan meregang, lebar pori-pori tersebut mencapai sepuluh kali. Sementara ukuran virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian, virus HIV dapat dengan leluasa menembus kondom.

  • Laporang dari Customer Report Magazine (1995) menyatakan bahwa pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop elektron dapat dilihat pori-pori kondom yang sepuluh kali lebih besar dari virus HIV.

  • M. Potts (1995), Presiden Family Health Internasional, salah seorang pencipta kondom mengakui, “Kami tidak dapat memberitahukan kepada banyak orang sejauh mana kondom dapat memberikan perlindungan pada seseorang. Sebab, menyuruh mereka yang telah masuk ke dalam kehidupan yang memiliki resiko tinggi (seks bebas dan pelacuran) ini untuk memakai kondom sama saja artinya dengan menyuruh orang yang mabuk memasang sabuk ke lehernya.”

  • V. Cline (1995), professor Psikologi Universitas Uttah, Amerika Serikat, menegaskan bahwa memberi kepercayaan kepada remaja atas keselamatan berhubungan seksual dengan menggunakan kondom adalah sangat keliru. Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan.

  • Pakar AIDS, R. Smith (1995), setelah bertahun-tahun mengikuti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam mereka yang telah menyebarkan “safe sex” dengan cara mengunakan kondom sebagai “sama saja dengan mengundang kematian”. Selanjutnya, beliau mengetengahkan pendapat bahwa penularan/penyebaran HIV/AIDS dapat diberantas dengan cara menghindari hubungan seks diluar nikah.

  • Di Indonesia pada tahun 1996 yang lalu, kondom yang diimpor dari Hongkong ditarik dari peredaran karena lima puluh persen bocor.

  • Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Biran Effendi (2000) menyatakan bahwa tingkat kegagalan kondom dalam Keluarga Berencana (KB) mencapai dua puluh persen. Hasil penelitian ini mendukung pernyataan Prof. Dr. Haryono Suyono (1994) bahwa kondom dirancang untuk Keluarga Berencana dan bukan untuk mencegah HIV/AIDS.

  • Dapat diumpamakan bahwa besarsnya sperma seperti ukuran jeruk garut, sedangkan kecilnya virus HIV/AIDS seperti ukuran titik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegagalan kondom untuk program Keluarga Berencana saja mencapai dua puluh persen, apalagi untuk program HIV/AIDS, maka akan lebih besar lagi tingkat kegagalannya. (Majalah Eramuslim Digest, Edisi Koleksi 5) http://kesehatan.kompasiana.com/seksologi/2012/06/24/kondom-tidak-efektif-mencegah-hivaids-466782.html

Menyimak berbagai pernyataan diatas maka :



  1. Mendukung pemerintah untuk menurunkan dan menghentikan penyebaran HIV/AIDS

  2. Hendaknya pemerintah lebih menggalakkan pendidikan perilaku berbasis agama agar masalah utama penyebab HIV AIDS yaitu free sex tidak semakin merajalela.

  3. Hendaknya pemerintah menghentikan pekan kondom nasional, karena sesungguhnya dari data ilmiah kondom tidak dapat dipakai untuk mencegah transmisi HIV/AIDS

  4. Hendaknya pemerintah menghentikan pekan kondom nasional karena, kegiatan ini menjadi prostitusi terselubung yang akan menganggu ketentraman hidup beragama dan ketentraman sosial masyarakat

  5. Hendaknya pemerintah menghentikan pekan kondom nasional, karena cara paling tepat mencegah penyebaran HIV AIDS adalah tidak melakukan hubungan seks, atau melakukannya dengan pasangan yang tetap yang tidak terinfeksi

Tags :

Page IMANI PROKAMI

Artikel Populer