Rabu, 29 Januari 2014

Gentle Birth, Reinform of Natural Childbirth

oleh Dr. Emy Tri Dianasari, Sp.OG http://www.facebook.com/notes/emy-tri-dianasari/gentle-birth-reinform-of-natural-childbirth/10150737355432195


Gentle birth adalah filosofi baru yang ‘menclok’ di hati saya. Sudut pandang mencerahkan ketika setelah hampir seperlima dekade, rutinitas saya adalah ibu hamil, persalinan, nifas dan menyusui. Saya dikenalkan pada filosofi ini oleh seorang teman yang peduli pada pemberdayaan kemampuan setiap perempuan. Dan pada akhirnya saya “jatuh hati” pada filosofi ini.

Gentle birth adalah filosofi yang sebenarnya telah diperkenalkan bertahun-tahun lamanya dalam ‘dunia reproduksi’. Entah bagaimana ceritanya, selama saya belajar obstetri dan ginekologi, sedikitpun saya tidak mengetahui ataupun diperkenalkan pada filosofi ini. Mungkin ini sebuah usulan bagi siapa saja yang berkecimpung di dunia pendidikan kebidanan, berikanlah materi mengenai filsafat dan sejarah persalinan. InsyaAllah saya akan memulainya dari diri saya sendiri kepada mahasiswa saya.

Apa itu gentle birth? Gentle birth (GB) adalah filosofi yang menganggap bahwa persalinan adalah sesuatu yang gentle (tenang, lembut, santun dan memanfaatkan semua unsur alami seorang manusia). Definisi ini saya ambil dari buku Gentle Birth karangan Mbak Yessi Aprilia, salah seorang bidan aktifis GB. Hal ini membawa konsekuensi bagi ibu, lingkungannya dan pendamping persalinan. Pada GB pendamping persalinan harus membantu dengan tenang dan suara lembut, sehingga momen persalinan saat bayi lahir adalah momen penuh ketenangan dan kedamaian. Sebelumnya seorang ibu dan ayah pun diminta untuk mempersiapkan dirinya agar dapat menjalani persalinan yang nyaman. Karena GB ini menghendaki body, mind and spirit sebagai satu kesatuan yang dengan penuh keikhlasan dan suka cita menyambut lahirnya buah hati. Ya betul, titik utama kehamilan dan persalinan GB adalah sang bayi. Bayi yang selama ini dalam proses kehamilan hanya dilihat dari USG, didengarkan dari fetoskop dan dirasakan saat dia bergerak, maka menurut saya dalam GB bayi adalah ‘manusia di dunia lain’. Sebagai muslim saya menyadari betul kebenaran anggapan ini. Kita percaya bahwa Allah meciptakan tahapan alam kehidupan, mulai dari kehidupan langit saat kita masih tertulis di kitabNya, kemudian kehidupan di alam rahim, kehidupan di dunia, selanjutnya alam barzah dan terakhir alam keabadian. Maka dengan konsep GB tersebut, kita akan menyadari betul bahwa saat kita mengandung kita sedang membawa sebuah dunia dimana bayi kita sedang hidup di dalam ‘dunia’ itu.

Kebenaran itu membuat pandangan bahwa kehamilan dan persalinan adalah ‘melulu’ psikologis ibu yang harus dijaga, menjadi bahwa kehamilan dan persalinan adalah kehidupan ibu dan kehidupan bayi di ‘dunia lain’ yang harus didengarkan keinginannya karena diapun berkomunikasi. Oleh karena itu GB mendidik seorang ibu mengenali kemampuan alamiahnya dan meyakininya sebagai sebuah proses alam bahwa tubuhnya telah didesain sedemikian rupa sehingga persalinan adalah momen kebahagiaan dimana rasa sakit berubah menjadi sesuatu yang ditunggu, yang diselami sebagai bagian dalam menyambut kedatangan ‘seseorang’ yang telah ditunggu kehadirannya. Seperti orang yang jatuh cinta gitu lho.

Dalam GB, baru sedikit yang saya pelajari, kita mempersiapkan ibu dengan panduan informasi, dukungan dan perencanaan persalinan yang mendidik ibu dan ayah harus mendesain persalinan yang diinginkan. Tentu saja persalinan ini mengutamakan persalinan yang nyaman dan minim trauma. Metode persiapan ini secara umum adalah membentuk sugesti positif bagi body, mind and spirit. Caranya banyak sekali karena setiap orang berbeda. Salah satunya hypnobirthing, yoga, taichi, senam hamil, afirmasi positif sehari-hari, massage, spa, BBM-an, olah raga dan lain sebagainya.

Dengan birth plan yang jelas dan diyakini maka persiapan juga akan mengikuti. Dalam GB persalinan yang nyaman dapat dilakukan dalam berbagai metode baik persalinan spontan maupun seksio sesarea. Persalinan spontan dapat dengan homebirth, waterbirth maupun persalinan di RS yang telah mengadopsi prinsip-prinsip GB. Jika karena sesuatu hal, persalinan spontan tidak dapat dilakukan maka seksio sesarea pun dapat dikerjakan secara gentle.

Persalinan GB juga mendukung delayed cord clamping, lotus birth, inisiasi menyusui dini dan rooming in. Intinya kita tidak memisahkan ibu dan janin dan melakukan segala sesuatunya penuh dengan kelembutan. Intinya, intervensi hanya diperlukan jika darurat, tidak ada teriak-teriak, tidak memaksa, tidak menyakiti dan menempatkan pendekatan medis yang selaras dengan alam. BTW, saat saya memperkenalkan konsep ini pada mahasiswa, bagi yang sudah mengenal APN (asuhan persalinan normal) dan manajemen aktif kala III mereka jadi garuk-garuk jilbab. Makanya hati-hati memahaminya ya agar tidak mispersepsi dan tidak membuat bingung bagi yang baru belajar.

Terus apa bedanya dengan persalinan yang kita kenal selama ini? Bagi ibu dan bapak yang sudah punya bayi, pasti sudah familier dengan aba-aba persalinan. Ayo bu..ayo bu...yak dikit lagi terus...terus. Hehehehe, sebenarnya gak terlalu perlu lho, karena bayi itu pintar. Alam akan menyuruh ibu mengedan tanpa harus mendengarkan aba-aba dari kita. Terus mengenai posisi persalinan, biasanya apa? Sebagian besar litotomi. Padahal banyak posisi persalinan yang ramah ibu, antara lain jongkok, duduk, berdiri, setengah jongkok, menungging...terserah apa mau ibunya dan senyaman ibunya tentu saja. Alhamdulillah, saya pernah merasakan yang litotomi, pernah merasakan yang sambil duduk. Ternyata duduk lebih nyaman lho dan lebih cepat. Apalagi jongkok ya...

Menurut saya setelah menerapkan GB pada pasien, GB berusaha membuat persalinan sebagai pengalaman bulan madu antara ibu, bayi dan ayah yang membutuhkan peran aktif ibu dan ayah. Jadi, persalinan bukan sebuah bisnis medis yang traumatis namun proses alami, yang bisa dilakukan oleh ibu manapun, yang minim trauma. Kehamilan dan persalinan menjadi tidak ramah dan tidak nyaman ketika intervensi diberikan secara sepihak hanya karena statistik atau kekhawatiran pendamping persalinan. Padahal, sejak pertama kali saya masuk kedokteran, waktu jaman muda dulu. Filsafat kedokteran yang terngiang-ngiang adalah MEDICINE IS ART. Jadi dimana art, kognitif, hati dan kecerdasan seorang pendamping persalinan jika semuanya diserahkan pada statistik? Guru-guru saya selalu bilang, terapi pasien case by case...bukan biasanya begini begitu...kenali kebutuhan dan tanda alamiahnya. Okee....silakan googling. Silakan masuk grup FB Gentle Birth untuk Semua.

Bersambung....insyaAllah jika perlu disambung
Tags : ,

Page IMANI PROKAMI

Artikel Populer