Kamis, 06 Februari 2014

Selayang Pandang Okupasi Terapi

Pengertian Okupasi Terapi



Okupasi terapi merupakan kata serapan dari bahasa Inggris “occupational therapy” yang terdiri 2 kata: “occupation” dan “therapy”. Occupation berarti suatu aktivitas yang melibatkan seseorang atau pekerjaan utama dalam kehidupan seseorang. Menurut World Federation of Occupational Therapists (2012), okupasi terapi merupakan profesi kesehatan yang berfokus untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan melalui okupasi.



Ruang Lingkup Okupasi Terapi



Pelayanan okupasi terapi menangani pasien berbagai usia yang mengalami gangguan fisik, kognitif, psikologis yang diakibatkan karena cedera, penuaan, stres, bawaan lahir.

Berikut ini adalah ruang lingkup okupasi terapi secara umum:



1. Tumbuh Kembang



Masa anak – anak adalah masa awal kehidupan manusia. Apabila terdapat gangguan pada masa ini yang tidak tertangani dengan baik maka akan mempengaruhi kehidupan setelahnya. Penanganan bertujuan untuk memungkinkan anak untuk dapat berperan serta dalam kehidupan bermasyarakat dan meningkatkan kemandirian mereka.

Peran okupasi pada masa tumbuh kembang meliputi berbagai aspek: fisik, kognitif, psikologis, dan sosial. Okupasi terapi membantu anak – anak tumbuh berkembang melalui pemberian berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi mereka. Kondisi tumbuh kembang yang memerlukan penanganan okupasi terapi misalnya kesulitan belajar, autisme, atau polio.

Pelayanan okupasi terapi pada gangguan tumbuh kembang antara lain:
a. membantu anak meningkatkan kemampuan menulis.
b. memodifikasi sarana bermain anak agar lebih aman.
c. melatih kemampuan anak untuk bersosialisasi.



2. Usia Lanjut



Usia lanjut secara normal merupakan masa penurunan kemampuan seseorang. Akibat dari penurunan kemampuan tersebut maka tidak sedikit penyakit yang menyerang. Penanganan okupasi terapi pada area ini memungkinkan lansia melakukan aktivitas sehari – hari secara mandiri dan mengurangi ketergantungan mereka terhadap lingkungan sekitarnya.

Peran okupasi terapi pada usia lanjut yaitu bagaimana para lansia ini mampu mempertahankan kemampuan yang masih ada. Okupasi terapi menangani berbagai aspek pada lansia: fisik, kognitif, dan psikososial. Kondisi pada lansia yang membutuhkan penanganan okupasi terapi seperti alzeimer, osteoporosis, atau parkinson.

Pelayanan okupasi terapi pada lansia antara lain:
a. memodifikasi lingkungan rumah untuk mencegah kemungkinan jatuh.
b. membantu lansia untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial.
c. melatih lansia cara menggunakan alat transportasi umum.



3. Kesehatan Jiwa



Kesehatan jiwa mutlak dipertahankan untuk bisa menjalani kehidupan ini. Seseorang yang sehat secara jasmani namun mengalami gangguan jiwa tidak akan mampu melaksanakan perannya di masyarakat. Okupasi terapi menangani gangguan jiwa dari mulai anak – anak sampai lansia dengan berbagai keadaan baik yang ringan ataupun yang berat. Penanganan okupasi terapi di kesehatan jiwa ditujukan untuk membantu klien mengatasi masalahnya sehingga mereka mampu mandiri dan berperan serta dalam kehidupan bermasyarakat.

Gangguan pada kesehatan jiwa yang membutuhkan penanganan okupasi terapi seperti skizofrenia, ketergantungan NAPZA (narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif), dan depresi.

Pelayan okupasi terapi di kesehatan jiwa antara lain:
a. membantu klien untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang disukainya.
b. melatih klien mengatasi amarah atau kecemasan.
c. membantu klien kembali lagi di lingkungan pekerjaan



4. Rehabilitasi Fisik



Kemampuan fisik seseorang adalah komponen penting dalam melakukan berbagai kegiatan. Ketika fisik terganggu akibat penyakit, hal ini akan menghambat keterlibatan seseorang dalam suatu aktivitas. Tidak jarang akibat gangguan fisik memerlukan pengobatan dalam jangka waktu yang lama. Pemulihan pasca sakit bisa berminggu – minggu, berbulan – bulan, bahkan bertahun – tahun.

Gangguan fisik yang membutuhkan penanganan okupasi terapi seperti stroke, penyakit jantung bawaan, penyakit paru obstruksi kronis, fraktur, artritis rematoid, dan kanker. Okupasi terapi tidak hanya menangani kemampuan fisik namun juga kemampuan kognitif dan psikososial yang terganggu akibat penyakit – penyakit fisik.

Pelayanan okupasi terapi pada klien dengan gangguan fisik antara lain:
a. melatih tata cara menggunakan kursi roda pada klien dengan cedera tulang belakang.
b. memodifikasi peralatan memasak pada klien dengan gangguan sendi.
c. mengajarkan tata cara berpakaian pada klien pasca amputasi anggota gerak.



Area Pelayanan Okupasi Terapi



1. Aktivitas Kehidupan Sehari – hari (Activities of Daily Living). Aktivitas kehidupan sehari – hari terbagi dua yaitu:
a. Perawatan diri (Basic/Personal ADL = PADL/BADL): aktivitas yang dilakukan seseorang untuk merawat dirinya sendiri seperti makan, mandi, berpakaian, perawatan alat bantu, dan aktivitas seksual.
b. Instrumental ADL : aktivitas yang lebih kompleks dan melibatkan lingkungan sekitar seperti mempersiapkan dan merapikan makanan, merawat keluarga, manajemen rumah tangga, manajemen keungan, dan penggunaan transportasi.



2. Produktivitas. Produktivitas yakni semua kegiatan yang bersifat produktif bagi manusia yang terbagi atas:
a. Pendidikan yang meliputi pendidikan formal (dari pendidikan usia dini sampai pendidikan tinggi) dan informal (berbagai jenis kursus, pelatihan, ataupun seminar) termasuk di dalamnya adalah kebutuhan dalam belajar dan partisipasi dalam lingkungan pendidikan.
b. Pekerjaan dalam hal ini adalah berbagai pekerjaan yang dilakukan oleh klien baik yang dibayar maupun sukarela.



3. Aktivitas waktu luang (leisure) yakni kegiatan yang dilakukan di waktu senggang dan bersifat menyenangkan yang bertempat di lingkungan rumah atau masyarakat baik aktif atau pasif serta dapat dikerjakan di dalam atau luar ruangan.
Tags :

Page IMANI PROKAMI

Artikel Populer