Selasa, 25 November 2014

Seminar dan Pelatihan Hospital Mesra Ibadah: Pelaksanaan dan Tantangannya


Seminar dan Pelatihan
Hospital Mesra Ibadah: Pelaksanaan dan Tantangannya
Dewan Masjid Wilayah Persekutuan
Kuala Lumpur, 7-9 November 2014

Seminar dan pelatihan Hospital Mesra Ibadah di Kuala Lumpur, dilaksanakan atas kerjasama Konsortium Hospital Islam Malaysia (KHIM) dengan Kementerian Kesihatan Malaysia (KKM) dan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM). Prokami mengirim dua orang perwakilan yaitu Dr Burhanuddin Hamid Darmadji dan Dr Siti Aisyah Ismail untuk mengikuti seminar tersebut.

Konsep Hospital Mesra Ibadah (HMI) telah dipelopori oleh KHIM sejak tahun 1996 di Hospital Al-Islam Kampung Baru, di Kuala Lumpur. Alhamdulillah melalui advokasi dan networking yang baik, KKM juga telah mengadopsi konsep tersebut di beberapa RS pemerintah sejak 2010. Pada bulan Oktober 2014, KKM secara resmi mengadakan launching konsep Hospital Mesra Ibadah di Hospital Sungai Buloh oleh Dirjen Kesehatan Dato Dr Noor Hisham Abdullah, untuk dilaksanakan di semua RS pemerintah. KKM bekerjasama dengan JAKIM telah memproduksi beberapa produk untuk menunjang pelaksanaan konsep ini seperti: poster dan buku panduan wudhu dan tayammum, poster dan buku panduan solat untuk pasien, video panduan wudhu, tayammum dan solat untuk pasien, sarana dan fasilitas ibadah, azan dan peringatan waktu solat, arah kiblat di semua ruangan RS, penempatan pegawai agama yang bertugas di RS, orientasi dan pelatihan perawat dan tenaga medis lain untuk membantu pasien beribadah dan lain-lain.

Menyadari bahwa hanya sebagian kecil pasien yang dirawat di RS melaksanakan solat, KHIM menyerukan kepada semua pihak untuk ikut andil dalam meluruskan persepsi masyarakat tentang kewajiban untuk tetap sholat ketika sakit, memfasilitasi pelaksanaan sholat di RS, konsep bekerja merupakan ibadah, dan mewujudkan nuansa mendekatkan diri kepada Allah bagi semua pasien dan tenaga kesehatan.

Beberapa konsep lain yang dipaparkan adalah:
11. Islamic chaplaincy
Menyediakan pelayanan suportif keagamaan bagi pasien dalam menjalani tempoh rawat di RS. Pelayanan diberikan oleh seorang petugas agama yang bekerja di RS, yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien, yang mencakup:
  •  Support ibadah, membimbing dan memfasilitasi pelaksanaannya
  • Respon di saat kritis, konseling anggota keluarga pasien
  • Membimbing pasien di saat menghadapi kematian
  • Membimbing pasien dan keluarga pasien di saat-saat sulit selama dirawat di RS
  • Dan lain-lain
Seorang muslim chaplain harus memiliki ketrampilan komunikasi inter-personal, konseling dan berpengetahuan Islam yang cukup baik. Dia juga harus mencoba mempraktikkan nilai-nilai Islam dalam pelayanannya seperti empati, bersandar kepada Allah, tidak menghakimi, memberi kenyamanan, dan lain-lain.

22. Spiritual assessment in patient
Penanganan pasien harus dilakukan secara holistik yang mencakup aspek fisik, mental, psikologis dan spiritual. Ketika pasien dirawat di RS, kondisi spiritual pasien juga perlu dinilai untuk mengetahui kebutuhan spiritual mereka. 3 kategori yang perlu dinilai adalah:
  • Faktor eksternal (keluarga, finansial, kondisi sebelum sakit, dll)
  • Faktor internal (emosi pasien, nilai-nilai hidup pasien, dll)
  • Bagaimana kondisi sakit mempengaruhi hubungan pasien dengan Allah
Profil kondisi spiritual ini akan membantu muslim chaplain untuk memberikan pelayanan yang memenuhi kebutuhan individu pasien. Penanganan aspek spiritual pasien diharapkan dapat mempercepat proses penyembuhan dan meringankan derita yang dialami.

33. Memahami emosi pasien dengan penyakit terminal
Pasien berhak untuk diberitahukan tentang prognosis penyakit mereka, agar mereka mempunyai kesempatan untuk melakukan persiapan menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi. Beberapa faktor mempengaruhi bagaimana reaksi pasien dalam menerima kondisi mereka. Sebagai petugas kesehatan, kita harus membangun komunikasi yang terbuka dengan pasien dan memahami siklus emosi yang mereka alami:
                     i.         Denial, tidak terlalu banyak memberikan informasi, tapi lebih banyak mendengarkan
                    ii.         Anger, jangan merasa diserang secara pribadi, ini reaksi normal
                  iii.         Bargaining, mengarahkan dan membimbing pasien untuk mendekatkan diri dengan Allah
                   iv.         Depression, memberi suport psikologis
                     v.         Acceptance, memfasilitasi kebutuhan mereka

44. Rukhshah dan Dharurah
Islam adalah agama yang mudah. Kondisi sakit diakui di dalam Islam sebagai suatu kondisi yang sulit. Pasien diperbolehkan untuk mengambil rukhshah (keringanan) dari ‘azhimah apabila timbul suatu dharurah. Beberapa kondisi rukhshah yang bisa diaplikasikan:
·      Berwudhu dalam kondisi khusus
·      Tayammum
·      Sholat dalam kondisi duduk, berbaring dan isyarat mata
·      Sholat jama’
·      dll

55. Maqashid Syari’ah dan Qawa’id Fiqhiyah in medicine
Dalam memutuskan sesuatu di bidang kedokteran, ada panduan khusus yang dapat digunakan di dalam Islam, yaitu:
                        I.         Maqashid syari’ah:
a.     Memelihara agama
b.     Memelihara jiwa
c.      Memelihara keturunan
d.     Memelihara akal
e.     Memelihara harta
                      II.         Qawa’id fiqhiyah
a.     Prinsip niat
b.     Prinsip kepastian
c.      Prinsip mudarat
d.     Prinsip kesulitan
e.     Prinsip kebiasaan

66. Profesional Muslim as da’i
Da’wah adalah menyampaikan Islam kepada muslim dan non-muslim, yang menghasilkan perubahan tingkah laku. Da’wah akan membantu pelakunya memperbaiki diri sendiri karena mempunyai standar tertentu yang harus dipenuhi. Beberapa konsep yang perlu diperhatikan adalah; proaktif, tadarruj, mudah diterima, menunjukkan contoh yang baik dan lain-lain. Di dalam setting kedokteran, kondisi pasien yang rentan membuka kesempatan yang besar untuk da’wah bagi mereka dan keluarganya. Petugas kesehatan harus menjalin hubungan interpersonal yang baik dengan pasien, menunjukkan contoh akhlak dan profesionalisme yang tinggi, serta menghormati hak dan privasi pasien.

77. Bimbingan Husnul Khatimah
Di dalam Islam, hidup merupakan sebuah perjalanan menuju akhirat. Dan kematian adalah permulaan kehidupan yang kekal abadi. Manusia harus bisa mengambil makna tersirat dari penyakit, kecacatan dan kematian, bahwa semua itu sudah ditakdirkan. Bimbingan ini bertujuan agar pasien lebih tenang dan dapat menuju husnul khatimah, juga membantu keluarga untuk dapat memberikan penghormatan terakhir dengan baik.

Sesi sharing dari beberapa RS pemerintah tentang pelaksanaan konsep HMI dan tantangannya, memberikan banyak masukan. Rumah Sakit yang menampilkan pengalaman mereka antara lain :
1.     Pusat Perubatan Universiti Malaya, Petaling Jaya
2.     Hospital Tengku Ampuan Afzan, Kuantan
3.     Hospital Sultanah Aminah, Johor Bahru
4.     Hospital Sultan Ismail, Johor Bahru
5.     Hospital Sultan Abdul Halim, Sungai Petani
6.     Hospital Teluk Intan
7.     RS Al Islam Bandung, Indonesia

Di hari terakhir, sebuah demonstrasi dan praktik diadakan tentang aplikasi manajemen ibadah pasien seperti wudhu dalam kondisi khusus, tayammum dan sholat dalam kondisi khusus.
Seminar dan pelatihan ini telah banyak membuka mata tentang aspek spiritual pasien yang sering terlupakan. Semoga Prokami dapat menjadi penggerak dan lebih bisa memasyarakatkan konsep dan aplikasi Ibadah Friendly Hospital di Indonesia.


Bersama delegasi dari RS Al-Islam Bandung dan RS Al-Irsyad Surabaya

Dr Burhan, Prof Dr Omar Hasan Kasule (Riyadh), Dr Ishak (KHIM) dan Dr Siti Aisyah

Dr Burhan, Dr Suhaimi (Hosp Al-Islam Kg Baru), Mr Kamal Abu Shamsieh (USA)

Foto bersama peserta seminar








Tags :

Page IMANI PROKAMI

Artikel Populer