Selasa, 08 Maret 2016

Filariasis, Masihkah Mengancam ?

Filariasis, Masihkah mengancam ?
Ratna Aryani*
*Kader kesehatan, Ketua RT periode 2009-2012, dosen Poltekkes Kemenkes Jakarta I

Pernahkah mendengar istilah Filariasis ? Dalam istilah awam Filariasis lebih dikenal dengan penyakit kaki gajah. Beberapa tahun belakangan ini, Filariasis merupakan penyakit yang cukup menakutkan bagi negara-negara tropis. Bagaimana tidak, hampir 1,4 milyar penduduk dunia di 73 negara terancam dengan Filariasis dan 120 juta diantaranya telah dinyatakan tertular (WHO, 2014).  Berdasarkan sumber data yang sama juga disebutkan terdapat 40 juta penderita telah mengalami kelumpuhan akibat penyakit tersebut.

Bagaimana dengan di Indonesia ? Menurut Depkes RI (2009), beberapa provinsi di Indonesia telah dinyatakan wabah Filariasis. Tiga provinsi dengan angka kejadian terbesar diantaranya adalah Nanggroe Aceh Darussalam (2.359 orang), Nusa Tenggara Timur (1.730 orang) dan Papua (1.158 orang). Bahkan pada tahun 2004-2005 terjadi kecenderungan peningkatan jumlah penderita yang sangat tajam hampir di seluruh provinsi.

Sebenarnya apa itu Filariasis dan bagaimana penyebarannya ?
Filariasis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh cacing Filariasis yang menyerang kelenjar getah bening (WHO, 2014). Filariasis begitu ditakuti karena 3 sebab, yaitu penularannya yang sangat mudah dengan perantara nyamuk, bersifat menahun dan bila tidak mendapatkan pengobatan yang tepat dan cepat dapat menimbulkan kecacatan yang menetap. Jenis cacing filariasis yang paling umum adalah Wuchereria bancrofti yang ditemukan pada 91% penderita dan paling banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropik, sedangkan jenis lainnya adalah Brugia malayi dan Brugia timori (Katiyar & Singh, 2011). Cacing-cacing filariasis tersebut ditularkan ke dalam tubuh manusia lewat gigitan nyamuk yang telah tertular dan kemudian bersirkulasi dalam darah. Hebatnya lagi, cacing-cacing filariasis ini dapat hidup di kelenjar getah bening selama 6-8 tahun dan mampu berkembangbiak menjadi jutaan mikrofilaria (larva yang belum matang). Nyamuk yang paling umum dapat menularkan cacing-cacing Filariasis adalah nyamuk Culex, Anopheles, Aedes dan Mansonia. 

 
Gambar 1 : cacing Filariasis dan nyamuk sebagai perantara penularan

Ada beberapa tanda gejala Filariasis yang harus dikenali oleh masyarakat, walaupun bisa jadi tanpa gejala. Selain tanpa gejala, Filariasis dapat pula berlanjut ke fase akut (awal) dan kronis (lanjutan). Menurut Depkes (2009), tanda gejala yang biasa dialami oleh penderita pada fase awal adalah :
a.    demam selama 3-5 hari,
b.    adanya pembengkakan di kelenjar getah bening, terutama di bagian paha dan ketiak. Bahkan dapat pula kelenjar getah bening tersebut dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah,
c.    pembesaran tungkai (kasus paling banyak), lengan, payudara (perempuan) dan kantong buah zakar (laki-laki). Penderita pada umumnya akan merasa nyeri dan panas di daerah pembengkakan.

Jika tidak diatasi, fase awal ini dapat menjadi fase lanjutan dimana pembesaran yang terjadi di fase awal akan menjadi menetap. Jika sudah menetap maka tidak bisa disembuhkan dengan obat anti Filaria saja dan membutuhkan tindakan lainnya seperti pembedahan, perawatan kulit dan beberapa latihan (exercise) untuk meningkatkan aliran darah ke kelenjar getah bening (WHO, 2014).

Gambar 2 : Bagian tubuh yang terinfeksi dengan Filariasis

Filariasis bukan hanya menyebabkan keluhan-keluhan fisik seperti di atas. Penderita dapat pula mengalami ketidaknyaman secara mental, sosial, finansial serta menerima pandangan negatif dari masyarakat (Shenoy,2008; WHO, 2014). Terlebih penderita pada akan sangat tergantung pada orang lain, termasuk ketika memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri, misalnya mandi, makan, buang air besar/kecil karena membesarnya bagian anggota tubuh.

Pemeriksaan diagnostik yang dibutuhkan untuk menguji apakah Filariasis aktif dalam tubuh adalah dengan pemeriksaan darah di laboratorium. Penderita akan diambil sampel darah hapusannya di malam hari, biasanya antara pukul 20.00 – 02.00 waktu setempat (Depkes RI, 2009). Pemeriksaan dilakukan di malam hari karena mikrofilaria yang menyebabkan Filariasis beredar dalam kelenjar getah bening pada malam hari. Selain itu dapat pula dilakukan pemeriksaan serologi dimana penderita dengan infeksi Filariasis aktif biasanya mengalami peningkatan kadar IgG4 antifilarial dalam darahnya (CDC, 2013).

Lalu bagaimana mencegah dan mengatasi endemik tersebut ? Jika Anda hidup atau sedang bepergian ke daerah endemik, maka pencegahan yang paling utama adalah mencegah gigitan nyamuk dengan cara tidur dengan menggunakan kelambu, memakai baju dan celana panjang dan juga memakai krim anti nyamuk jika menjelang senja ataupun fajar (CDC, 2013). Pada tahun 2000 juga telah disepakati adanya GPELF (Global Programme for Elimination of Lymphatic Filariasis) yang akan berlaku sampai dengan tahun 2020 dengan 2 fokus program, yaitu : (1) pemberian obat Filariasis secara massal 5 tahun berturut-turut untuk mencegah infeksi Filariasis di masyarakat dan (2) mengurangi kecacatan pada penderita yang telah terinfeksi (Seim, Dreyer & Addiss, 1999 dalam Katiyar & Singh, 2011).

Pengobatan massal wajib diikuti oleh seluruh masyarakat yang berusia di atas 2 tahun yang hidup di daerah endemik. Pengobatan ini dapat ditunda pada orang sakit berat, anak yang berusia di bawah 2 tahun dan wanita hamil (Depkes RI, 2009). Obat massal yang dipakai untuk pengobatan anti Filariasis adalah DEC (Diethylcarbamazine), Albendazole dan Parasetamol. DEC berpotensi membunuh mikrofilaria, namun demikian konsumsi obat ini memerlukan perhaian karena efek sampingnya, seperti perdarahan retina (Katiyar & Singh, 2011). Albendazole digunakan untuk mengatasi cacing dan jika dikombinasikan dengan DEC terbukti menurunkan jumlah mikrofilaria. Paracetamol diberikan untuk mencegah reaksi pengobatan seperti demam.

Berdasarkan pengalaman, hal pertama yang perlu dilakukan oleh kader kesehatan dan tokoh masyarakat di tingkat RT/RW adalah melakukan sosialisasi berupa penyuluhan langsung kepada masyarakat. Adanya leaflet biasanya akan membantu proses sosialisasi. Sosialisasi dapat dilakukan di setiap pertemuan masyarakat, misalnya arisan, senam pagi, temu warga ataupun posyandu. Sosialisasi yang efektif akan sangat cukup meng-counter pemberitaan media massa yang kadang tidak berimbang dan seringkali menyudutkan program pemberian obat secara massal. Hal ini terjadi pada tahun 2008-an dimana pemberitaan media banyak menimbulkan ketakutan-ketakutan masyarakat dalam mengkonsumsi obat massal anti Filariasis tersebut. Media kurang memberikan informasi tentang Filariasis itu sendiri dan lebih mem-blow-up kasus-kasus yang mengalami efek samping obat seperti mual muntah, pusing, bahkan yang mengalami kematian yang pada akhirnya diketahui bukan karena mengkonsumsi obat Filariasis.

Untuk menyukseskan program pengobatan massal Filariasis, kader kesehatan dapat pula melibatkan ibu-ibu yang dinilai aktif di masyarakat untuk membantu, misalnya untuk mengidentifikasi terlebih dahulu warga yang boleh minum ataupun yang tidak diperbolehkan minum obat tersebut untuk meminimalisir efek samping pengobatan Filariasis. Biasanya pemberian obat anti Filariasis dilakukan serentak per kelurahan pada jam yang sama (biasanya pukul 16.00 waktu setempat). Kegiatan dapat dilakukan di lapangan ataupun tempat yang paling memungkinkan dikumpulkannya banyak masyarakat. Akan lebih baik jika kader menyiapkan makanan berat siap saji (misalnya lontong atau pisang rebus) untuk dimakan sebelum pengobatan karena obat tersebut harus diminum sebelum makan.

Dalam pembagian obat tersebut, akan lebih baik dikoordinir siapa yang bertugas di bagian pendaftaran, melakukan pengecekan tekanan darah, membagikan konsumsi, serta yang membagikan obat dan pencatatannya. Pada malam harinya (sekitar pukul 19.00 WIB), petugas akan melakukan sweaping ke rumah-rumah untuk mengecek apakah ada warga yang mengalami efek samping yang berat. Jika ada efek samping yang berat, penderita segera dirujuk ke pelayanan kesehatan.

Lalu bagaimana mengurangi kecacatan pada penderita yang telah terinfeksi ? Menurut WHO (2003), hal yang bisa dilakukan adalah :
a.       Untuk mencegah infeksi, cuci dengan hati-hati daerah yang mengalami pembengkakan dengan menggunakan sabun dan air bersih. Jika ada daerah yang sulit dijangkau, penderita harus ditolong oleh anggota keluarganya. Hal yang harus diingat adalah orang yang membantu penderita membersihkan area yang mengalami pembengkakan tidak akan tertular oleh Filariasis karena Filariasis hanya dapat ditularkan lewat perantara nyamuk.


Gambar 4 : Penderita dan keluarga sedang membersihkan daerah yang mengalami
pembengkakan dengan menggunakan sabun dan air bersih

b. Setelah dibersihkan, keringkanlah seluruh bagian, terutama sela kaki dengan menggunakan handuk yang lembut.


Gambar 5 : Penderita sedang mengeringkan daerah yang telah dicuci

c. Tinggikan area yang mengalami pembengkakan, baik di siang hari ataupun di malam hari. Pasien dapat melakukannya sambil melakukan aktivitas lainnya, misalnya memasak. Pastikan posisi penderita dalam keadaan nyaman 


Gambar 6 : Penderita sedang meninggikan area yang mengalami pembengkakan

d. Lakukan beberapa gerakan latihan.
Latihan gerakan 1 : Angkat ujung kaki dan kemudian datarkan kembali
Latihan gerakan 2 : Angkat kaki dan buatlah lingkaran dengan menggunakan ujung kaki

 Gambar 7 : latihan gerakan 1 dan 2

Berdasarkan tulisan di atas dapat disimpulkan bahwa sebenarnya Filariasis masih tetap mengancam mengingat bahwa Indonesia termasuk dalam wilayah tropis dengan kelembaban yang cukup tinggi sehingga memungkinkan banyaknya spesies nyamuk sebagai perantara penularan, ditambah lagi tanda dan gejala yang kadang tidak terlihat dan bersifat menahun dimana mikrofilaria dapat lama bertahan hidup di dalam kelenjar getah bening. Namun dengan adanya upaya semua pihak maka pencegahan terhadap Filariasis dapat terus diupayakan dan bagi masyarakat yang sudah dinyatakan terinfeksi mendapatkan penanganan yang semestinya.


REFERENSI

CDC (2013). Diagnosis : Lymphatic Filariasis. Diunduh pada tanggal 4 April 2014 di http://www.cdc.gov/parasites/lymphaticfilariasis/diagnosis.html


Depkes RI (2009).  Pedoman Penentuan dan Evaluasi Daerah endemis Filariasis. Jakarta : Depkes RI

 

Katiyar, D & Singh, LK (2011). Filariasis : Current Status, Treatment and Recent Advances in Drug Development. Current Medicinal Chemistry. Vol. 18, 2174-2185

Shenoy, RK (2008). Clinical and Pathological Aspects of Filarial Lymphedema and Its Management. Korean J Parasitol.Vol. 46, No. 3: 119-125

 

WHO (2014). Lymphatic filariasis. Diunduh pada tanggal 2 April 2014 di  http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs102/en/

 

WHO (2014). Community home-based prevention of disability due to lymphatic filariasis. Diunduh pada tanggal 2 April 2014 di http://www.wpro.who.int/southpacific/pacelf/publications/New_Lymphatic_Filariasis_CommunityPreventionFlipchart.pdf

Tags :

Page IMANI PROKAMI

Artikel Populer