Kamis, 05 Mei 2016

Latar Belakang Keengganan Mengikuti Program Imunisasi

antivaksin

Pekan Imunisasi Nasional (PIN) baru saja kita lalui dengan hasil cukup menggembirakan, yang berhasil menjangkau ±95,2% target sasaran. Namun, kalau kita cermati pelaksanaan program imunisasi rutin secara umum, cakupan imunisasi di beberapa daerah di Indonesia saat ini belum sesuai dengan target yang diharapkan. Di sebagian daerah, cakupan imunisasi juga mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Sekarang ini, tampaknya mulai muncul trend keengganan untuk mengikuti program imunisasi pada sebagian kalangan. Tulisan singkat ini bermaksud untuk mengurai faktor-faktor yang melatar-belakangi fenomena ini. Beberapa faktor tersebut di antaranya:

Kurangnya informasi tentang pentingnya imunisasi

Imunisasi adalah intervensi untuk kesehatan masyarakat secara umum, bukan hanya bersifat individu. Beberapa penyakit yang sebelumnya menurun dan jarang ditemukan, sekarang mengalami peningkatan angka kejadian karena menurunnya cakupan imunisasi. Sebagai contoh yang terjadi belum lama ini di Amerika Serikat, yaitu terjadinya wabah campak yang melanda 24 negara bagian(Disneyland outbreak). Padahal, campak sudah dinyatakan ter-eliminiasi di AS sejak tahun 2000. Wabah ini berkaitan meningkatnya trend keengganan orang tua untuk mengikuti program imunisasi atas dasar kepercayaan semata, bukan atas indikasi medis yang bisa dibenarkan (religious- atau philosophical-based vaccine exemption).

Selain itu, juga karena kurangnya informasi tentang bahaya penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Masyarakat menganggap ringan, atau menganggap bahwa nantinya bisa sembuh sendiri jika terkena penyakit tersebut. Trend ini adalah karena keberhasilan program vaksinasi itu sendiri, sehingga penyakit-penyakit tersebut jarang atau tidak pernah mereka lihat secara langsung. Jauh berbeda dengan trend era tahun 1940-1970-an ketika masyarakat sangat antusias mengikuti program imunisasi, dan ketika isu-isu anti-vaksinasi menjadi isu yang tidak laku, karena banyaknya wabah campak, polio, difteri, pertussis, rubella, dan penyakit lain ketika itu.

Lebih mempercayai metode alternatif seperti herbal

Masyarakat saat ini sepertinya mudah tertipu dengan klaim bahan alami seperti herbal. Padahal, obat-obatan herbal tidak bisa berfungsi sebagai vaksin. Namun (mungkin) bermanfaat untuk pencegahan yang bersifat umum. Marilah berpikir dengan logika sederhana, jika memang benar bahan-bahan herbal itu berfungsi sebagai vaksin, mengapa negara-negara di seluruh dunia tidak memanfaatkan herbal saja yang melimpah di alam dan tidak akan pernah habis? Dan lebih meng-investasikan dana mereka melalui program vaksinasi?

Sebagian umat Islam percaya bahwa metode tertentu seperti tahnik dengan kurma bisa berfungsi sebagai vaksin. Padahal, tidak ada dalil penjelasan apa pun dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal ini. Jangankan dalam hadits shahih, di hadits dha’if pun tidak ada. Juga tidak ada bukti penelitian ilmiah yang bisa dijadikan sebagai landasan. Lalu, apa sebenarnya landasan mereka? Ya, semata-mata klaim atas dasar “percaya” atau ikut-ikutan.

Banyaknya informasi yang tersebar melalui internet

Tidak semua informasi di internet adalah informasi yang bisa dipercaya. Namun, tidak semua orang bisa melakukan kroscek atas suatu informasi. Harus pandai memilah dan memilih, manakah informasi yang valid, manakah yang hoax sehingga tidak perlu dianggap. Terkadang, informasi tersebut benar, namun salah dipahami oleh orang yang tidak memahami masalah yang sedang dibahas karena tidak memiliki background yang memadai di bidang tersebut.

Contoh adalah fenomena ketika program PIN berlangsung, ketika sebagian orang ramai-ramai membahas shedding virus polio dalam vaksin polio OPV ke lingkungan sekitar. Sebagian membawakan jurnal penelitian, sebagian membawakan link-link situs internet. Lalu, muncullah ketakutan terhadap adanya shedding, sehingga sebagian orang ingin mengunci pintu rumah rapat-rapat atau tidak bepergian ke area publik selama program PIN berlangsung.

Adanya shedding memang benar. Tapi, pada kelompok anak yang mana? Apakah pada semua kelompok anak? Berapa besar risikonya ketika PIN? Apa kaitan antara shedding dengan status imunologis seseorang yang sebelumnya sudah pernah mendapatkan vaksin polio? Hal-hal semacam ini, tidak bisa secara lengkap dipahami jika hanya membaca satu-dua jurnal saja. Hendaknya kita selalu berkaca, bahwa tidak semua masalah dan bidang ilmu bisa kita pahami dengan baik. Sangat disayangkan, ketika banyak orang ikut-ikutan membahas dan berkomentar tentang shedding, yang semakin menunjukkan bahwa mereka tidak paham apa yang sebenarnya sedang mereka bahas. Oleh karena itu, selalu tanyakan dan konfirmasi kepada ahlinya (dokter dan petugas kesehatan yang lain) jika menemukan informasi yang “mengerikan” tentang vaksin dan imunisasi.

Kurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan

Di sebagian wilayah di Indonesia, terutama wilayah pedalaman, akses petugas imunisasi sangat terbatas untuk menjangkau semua lapisan masyarakat. Selain itu, vaksin bersubsidi (yang masuk program imunisasi wajib) di Indonesia masih terbatas, berbeda dengan negara-negara lainnya. Tidak semua orang bisa memiliki kemampuan untuk membeli vaksin non-subsidi. Dua hal ini semoga menjadi perhatian pemerintah kita ke depannya. Di negara lain, seperti Pakistan dan Afghanistan (dua negara sisa yang masih endemis polio), program vaksinasi mengalamai hambatan distribusi logistik akibat situasi keamanan yang tidak menentu. Bahkan, pusat layanan vaksinasi di Pakistan pun menjadi target serangan bom bunuh diri.

Ketakutan berlebihan terhadap efek samping imunisasi (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi)

Tidak ada satu pun intervensi kesehatan (baik medis atau non-medis) yang bebas efek samping. Jika ada pedagang herbal meng-klaim produknya 100% aman, bisa dipastikan bahwa klaim tersebut bohong alias tidak benar. Begitu juga imunisasi, pasti ada efek samping yang timbul. Namun, efek samping tersebut umumnya ringan (demam, rasa nyeri, bengkak di bekas suntikan). Efek samping yang bersifat berat sangat jarang. Semua risiko ini sudah diperhitungkan sebelum program imunisasi diluncurkan. Program imunisasi dilaksanakan karena efek samping (risiko) tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan manfaat (benefit) yang didapatkan (risk-benefit analysis).

Contoh-Contoh Dampak Negatif Menurunnya Cakupan Imunisasi di Suatu Wilayah Tertentu

Berikut ini adalah contoh-contoh dampak negatif menurunnya cakupan imunisasi di suatu wilayah tertentu.

  1. Nigeria pernah menghentikan program imunisasi polio tahun 2003 akibat isu konspirasi. Akibatnya, Nigeria terkena wabah polio dan menjadi negara “penyumbang” kasus polio terbanyak di dunia.
  2. Di Belanda, terdapat daerah-daerah dengan cakupan imunisasi rendah, yang disebut dengan daerah Bible belt. Berbagai macam wabah dijumpai di daerah ini, seperti wabah polio, campak, dan gondongan (mumps). Wabah tidak meluas ke daerah lain di Belanda yang berhasil mempertahankan cakupan imunisasi tetap tinggi.
  3. Program imunisasi pertusis pernah dihentikan di Jepang tahun 1979. Setelah itu, Jepang mengalami wabah pertusis dengan ±13.000 kasus dan 42 kematian. Angka kejadian pertusis meningkat 20 kali lipat.
  4. Kondisi yang sama dijumpai di Swedia, Irlandia, Italia, dan Australia ketika cakupan imunisasi pertusis menurun (rata-rata terjadi pada era tahun 1980-an).
  5. Wabah campak dan gondongan (mumps) di Inggris dan Irlandia ketika cakupan imunisasi campak menurun tajam akibat isu vaksin MMR yang diisukan menyebabkan autisme (pada tahun 2000, dan masih dijumpai hingga kini).
  6. Wabah campak di Amerika Serikat akibat meningkatnya keengganan mengikuti imunisasi di negara-negara bagian tertentu, wabah ini terkenal dengan sebutan Disneyland outbreak.
  7. Di Indonesia, contoh terbaru adalah wabah difteri di Padang pada tahun 2014. Hal ini karena menurunnya cakupan imunisasi dari ±93% hanya menjadi ±35%.
  8. Sebelumnya, Indonesia mengalami wabah polio tahun 2005-2006, di Sukabumi (Jawa Barat), akibat seorang balita yang tidak diimunisasi polio.

Cukuplah contoh-contoh di atas menunjukkan pentingnya menjaga angka cakupan imunisasi tetap tinggi. Upaya pencegahan ini hendaknya tetap dilakukan selaras dengan usaha-usaha pencegahan penyakit secara umum, seperti menjaga pola hidup bersih dan sehat, olah raga dan istirahat yang cukup, makanan bergizi, ASI, dan sebagainya.

Penulis: M. Saifudin Hakim

Bahan Bacaan:

*****

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter.

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini



from Kesehatan Muslim http://ift.tt/1X9C3oa
Tags :

Page IMANI PROKAMI

Artikel Populer